Alloh Akbar … Alloh Akbar …..
Suara adzan menggema menggetarkan alam raya, subuh telah datang dan meminta para insan beriman untuk datang menyambut pagi dengan riang.
Seketika itu aku terbangun dari mimpi panjang yang melenakan, mengangkat tubuh yang terasa terbeban berat batu yang besar menuju sumber kesegaran, berwudhu dengan sambil mendzikirkan asma Ilahi Robbi.
Selepas menunaikan sholat subuh, segera aku bergegas mempersiapkan segala keperluanku satu hari nanti, banyak tugas yang mesti aku selesaikan. Ketemu klien, presentasi bisnis, kunjungan proyek …. Bla…..bla….bla … hampir setiap hari seperti itu.
“Surya …..Surya … coba kesini sebentar “, teriakan seorang wanita yang sudah tidak muda lagi tapi masih terliat anggun wajahnya.
“ iya bu..sebentar. lagi siap – siap nih”, jawabku menyambutnya.
“ ada apa bu ? “ tanyaku kepada beliau yang sangat aku hornati dan aku sayangi.
“ini ibu buatkan switter untuk kamu, kalo kalo kamu lembur lagi ampe malam biar gak kedinginan , jaga kesehatan“ jawab ibunda tercinta.
Ibu memang sangat perhatian pada putra semata wayangnya ini, semenjak bapak meninggal kita hidup berdua menjalani sisa-sisa umur. Kadang aku tidak tega meninggalkan ibu sendiri setiap hari. Di masa tidak mudanya lagi ini, harusnya ibu ada yang menemani. Aku merasa bersalah karena belum bisa menghadiahkan apa yang selama ini beliau harapkan, yaitu seorang bidadari dunia yang bisa menggantikan aku menemani beliau ketika aku berkutat dengan urusan kerja dan bisnisku, bidadari yang bisa dijadikan tempat curhat ibu. Memang seharusnya aku dah mulai memikirkan itu, umur 27 tahun aku rasa sudah matang untuk membina biduk rumah tangga. Bahkan bisa dibilang telat, Rosululloh saja menikah umur 25 tahun. Ada juga temanku yang menikah umur 23, 24 tahun..
“ ehhmmm…. Sudah waktunya aku memberikan hadiah kepada ibu. Tapi siapa wanita itu?” ucapku dalam hati
“siapapun wanita itu yang penting dia Cinta sama Allah dan Nabi-NYA, baik akhlaknya, ra neko-neko”.
“He he… iya bu “, pernyataan ibu yang menyadarkanku dari lamunan serasa tau apa yang sedang aku pikirkan.
“maaf ya bu, surya belum bisa memenuhi permintaan ibu” ucapku dengan mencium tangan yang selama ini merawatku.
“gak pa pa le… semua sudah dtuliskan Alloh waktunya, yang penting kamu jangan berhenti berdoa dan ikhtiar”. Nasehat ibunda yang menghangatkan jiwaku.
“sudah sana siap – siap, nanti terlambat… sarapan dulu biar ada energi” pinta sang ibu.
“inggeh bu…” jawabku sambil mempersiapkan semua perlengkapan kerja di ruang tamu.
Nyamm…Nyamm..Nyamm…Nasi liwet, sayur asem, tempe goreng “udoh” (# tempe yang tidak dikasih tepung) plus sambel trasi terasa nikmat di lidah dan tergilas lembut dengan gigi-gigi gerahamku sehingga mudah masuk kedalam perutku yang semakin lama semakin terasa kenyang.
“kulo berangkat dulu geh bu …. insyaAlloh nanti kulo usahakan gak nyampe larut malam, menawi mau pergi belanja minta tolong suruh antar paklek mawon” pamitku pada ibu.
“ iya le … ya dah ati-ati. sing prigel lan jujur anggonmu kerjo” pesan ibu.
“inggeh ….” Jawabku dengan tersenyum memandang wajah anggunnya.
“assalamu’alaykum ….”
“wa’alaykumsalam ….”
Brmm…brmm …
Mulai aq kendarai “kuda hitamku” Honda Mega Pro keluaran terbaru hasil keringatku selama 2 tahun ini. Pekerjaan sebagai konsultan proyek dan bisnis property Alhamdulillah mengalir bagai air terjun tawangmangu yang deras dan menyegarkan. Semua ini berkat doa ibu sepanjang malam yang tiada berhenti bermunajat kepada Sang Maha Kaya. Ada keinginan untuk membelikan ibu “gerobak tertutup”, tapi mungkin kudu sabar, uangnya di bagi-bagi untuk keperluan ini dan itu.
Aku arahkan tujuanku yang pertama ke sebuah kota yang terkenal dengan wilayah agro nya, kota yang terapit oleh 2 kota besar central bisnis dan pemerintahan jaman dulu serta 2 kerajaan di Jawa Tengah. Kota yang berada di jalur penghubung antara kota batik (“spirit of java”) dengan kota gudeg, yang terkadang hanya sebagai kota “numpang lewat” bagi para pelancong dari luar kota. Kota dengan wilayah agro terbesar di Jawa Tengah. Hasil pertanian yang terkenal seantero nasional bahkan internasional adalah “beras Rojo Lele”, yang kata orang wangi, pulen dan khas rasanya. Meskipun demikian sekarang para petani menjerit karena sudah 3 kali musim tidak panen karena serangan hama. Sehingga yang terjadi, “kendil nggoleng”, “sulot pawon” padam karena emang kebanyakan penghasilan utama mereka adalah bertani sehingga ledakan hama membuat mereka hampir gak ada pemasukan ditambah lagi kebijakan penggede-penggede negeri ini yang menaikkan harga dasar listrik yg menyebabkan para rakyat semakin tercekik kehidupannya.
“Alhamdulillah…. Akhirnya sampai”. Perjalanan dari pojok paling timur kota susu hingga kota agro ini aku tempuh sekitar setengah jam.
Aku parkirkan “kuda hitamku” di tempat parkir tamu dan aku langkahkan kakiku memasuki sebuah gedung yang bisa dibilang termegah dan terelit di kota agro ini. Orang-orang yang di dalam gedung ini pun bisa dibilang terkaya daripada para petani dan terhormat dari pada para pedagang kaki lima. Gimana tidak terkaya , untuk masuk menduduki “kursi” yang didalam gedung ini aja bisa-bisa menghabiskan uang ratusan juta rupiah dan gimana tidak terhormat, orang-orang ini lah yang katanya mewakili suara rakyat. Meskipun terkadang punya prinsip “metu akeh, kuras kabeh”, modal yang dikeluarkan untuk menjadi wakil rakyat banyak maka uang Negara perlu dikuras.
Di gedung ini aku akan mempresentasikan master plan “pembangunanan wilayah wisata air” di kota agro ini. Di wilayah barat laut dari kota ini merupakan wilayah dengan intensitas air yang cukup banyak, curahan dari lereng gunung Merapi disamping itu juga view nya yang nampak asri dan natural cocok banget untuk di buat kawasan wisata air dan agro. Aku memasuki ruangan khusus untuk pitching, sudah ada banyak orang di dalamnya. Para dewan dari komisi yang ngurusi sarana dan prasarana, dinas pariwisata dan kebudayaan serta tidak lupa konsultan tandingan dari biro konsultan lain.
Aku dan konsultan tandingan di beri kesempatan untuk mempresentasikan master plan kami masing-masing sehingga akan bisa ditentukan siapa yang akan menghandle tender ini. Setelah presentasi, aku dan konsultan tandingan dipersilahkan untuk menuju sebuah ruangan yang telah disediakan jamuan untuk makan siang sambil menunggu hasil diskusi dari para panitia pelaksana pembangunan. Setelah dhuhur, masing-masing dari kami dipanggil ke ruangan yang berbeda untuk membicarakan hasil pitching. Tanpa kusangka di kesempatan ini akan terlihat keaslian dari para penduduk “kursi-kursi” terhormat itu.
“begini pak Surya….langsung saja. Kami setuju dengan master plan anda, tapi dengan catatan budget yang anda buat untuk pembangunan ini sedikit di “perbaiki” , gimana ? ucap salah satu panitia dan juga sekaligus dewan terhormat.
“maksudnya diperbaiki seperti apa pak ? bukankan itu budget yang sesuai dengan kondisi sekarang ?” tegasku pada para pejabat itu.
“kami sudah membuat rancangan budget untuk pembangunan ini, kalo anda setuju kami akan memakai master plan anda tapi kalo tidak ya silahkan anda bawa master plan anda pada lembaga yang sesuai dengan ideologi “sok jujur” anda itu “ jelas mereka dengan tanda tinggi
Setelah aku liat rancangan budget yang mereka buat, ternyata budget itu lebih tinggi daripada yang aku buat bahkan bukan hanya sekedar jutaan tapi selisihnya hingga ratusan juta rupiah.
“Giiilaa ….., begini caranya para pejabat memakan “tubuh rakyatnya” ucapku dalam hati.
Aku langsung ingat pesan ibunda kepadaku saat aku berpamitan tadi “ sing jujur anggonmu kerjo”
“OK…para bapak yang “terhormat”, saya tidak tergiur dengan rancangan budget ini. Silahkan bapak menggunakan jasa konsultan lain yang mau mengantarkan bapak sekalian dalam neraka jahanam. Terima kasih “ tegasku pada mereka sambil keluar dari ruangan tersebut.
Geregetan….marah…..benci ….berkecamuk dalam jiwaku. Baru kali ini aku bertemu dengan wakil rakyat yang “biadab” seperti mereka. Padahal, sebelum ini aku juga sudah sering menggoalkan tender-tender proyek dari pemerintah daerah tapi secara jujur apa adanya.
Jiwaku masih merasa emosi dengan kejadian yang barusan aku alami, sehingga perlu didinginkan dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Kuarahkan “kuda hitamku” menuju suatu tempat yang bisa menyejukkan hati, baitulloh. Masjid raya di pusat kota agro yang di sekitarnya ada taman yang asri dan enak untuk melepas penat di jiwa. Kebetulan juga mau masuk waktu ashar.
“Alhamdulillah….segar”, kubasuh bagian-bagian tubuhku dengan air wudhu.
Inilah dahsyat air wudhu, yang dibasuh badan tapi yang merasakan sejuk dan nyaman adalah jiwa. Sehingga lenyaplah sudah rasa emosi yang selama tadi berkecamuk dalam jiwa. Habis panas terbitlah segar.
“Terimakasih Ya Allah, telah selamatkan aku dari fitnah dajjal, kerakusan dan keangkuhan”, doaku pada Lillahi Robbi
hmmm….. terasa sejuk hati ini setelah menghadap Sang Pemilik Hati. Kuputuskan untuk menunda kunjungan ke lokasi proyek di kota salak pondoh. Ingin rasanya merefresh pikiran. Kulangkahkan kakiku menuju taman yang ada di sekitar masjid raya, banyak tanaman bunga dan pohon-pohon rindang yang teduh. Sore itu taman tidak terlalu banyak orang, hanya ada beberapa orang saja yang sedang melepas kelelehan.
Ada tempat duduk yang kosong di bawah pohon rindang yang di depannya terlihat ada bunga-bunga yang berwarna warni yang sedang mekar. Bagus sekali untuk terapi rileksasi pikiran. Ketika pikiran sedang penat, selain menenggelamkan diri dengan bacaan Asy Syifa’ (Al-qur’an), biasanya juga bisa dengan melihat hal-hal yang menyenangkan seperti melihat ikan-ikan yang berenang di kolam, bunga yang berwarna warni di taman dan anak-anak kecil yang imut. Meskipun sudah dewasa, terkadang juga harus memiliki sifat seperti anak kecilyang senantiasa gembira dan semangat.
“sambil menikmati sejuknya taman ini mending aku sedikit mempelajari lagi bahan untuk presentasi besok”, gumamku sambil membuka laptop. Laptop ini sangat…sangat..berharga untukku karena didalamnya banyak tersimpan file-file master plan projek dan bisnis.
Ketika aku sedang membuka-buka bahan presentasi, tiba-tiba terasa ada yang menggelitik beda di telinga ini. Ada lantunan yang membuat sejuk jiwa ini. Terasa lembut, syahdu dan indah. Lantunan ayat-ayat qur’an yang bercampur dengan suara alam yang ada di taman ini terasa syahdu dan menyejukkan. Aku hentikan aktivitasku dan mulai mencari sumber suara tersebut.
“darimana suara itu ?” lirihku
“apa winamp laptopku nyala ya ?” tanyaku sambil menyelidiki laptop di tanganku.
“lho…gak ki. Trus darimana ya ?, kok suaranya bagus banget seperti suara murotal yang sering aku denger di winamp laptopku” tanyaku lagi sambil kebingungan mencari sumber suara lembut itu.
Kupalingkan kepalaku kekanan kekiri, tapi cuma ada adik-adik kecil yang sedang bermain. Lalu aku palingkan pandanganku ke belakang, terlihat ada seseorang yang sedang duduk di bangku yang ada di balik pohon di belakang tempat dudukku. Yang terlihat cuma kain yang menutup kepalanya yang tiada lain kain itu jilbab yang sering dikenakan para muslimah. Jilbab yang putih bersih dan terasa mengkilat ketika terkena serpihan sinar matahari.
“assalamu’alaykum…” salamku dengan masih di tempatku
“ wa’alaykumsalam warrohmatulloh wabarokatuh” jawabnya dengan lengkap, serasa tidak mau tanggung-tanggung untuk mendoakan yang memberi salam dan dengan posisi yang belum memalingkan wajah
“maaf kalo saya mengganggu, karena tadi saya dengar suara lantunan qur’an sehingga saya mencari sumberny” tegasku.
“ astaghfirullah… afwan jiddan, saya gak tau kalo ada orang di situ. Seharusnya saya membacanya dengan lirih” jawabnya serasa malu karena salah satu auratnya sudah terdengar oleh lain jenis
Tempat aku duduk dengan tempat duduk muslimah itu memang cuma dibatasi dengan pohon besar dengan diameter 1,5 meter sehingga suara yang ada di belakang tempat dudukku tetap terdengar dan juga kalau datangnya dari arah depan tempat duduk muslimah itu tidak bisa melihat orang yang ada di sebaliknya karena terhalang pohon besar.
“iy …. insyaAlloh gak pa pa. kan khilaf…? Jawabku.
“bagus bacaannya…..lagi tilawah ato menghafal ? “ tanyaku
“Alhamdulillah…. Semua karunia Alloh. Lagi mengulangi hafalan untuk di setor ke ustadah” jawab muslimah itu menjelaskan dengan tanpa memalingkan wajahnya sama sekali, hanya menunduk serasa malu.
“oy, maaf …. Nama saya Surya” kataku sambil mengenalkan diri.
Muslimah itu masih terdiam, serasa bingung perlukah untuk memperkenalkan diri juga. Tapi pada akhirnya dia juga memperkenalkan diri, sebagai penghormatan.
“afwan… nama ana Aisyah”, kata muslimah itu mengenalkan dan sedikit memalingkan wajahnya.
Dan di saat inilah peristiwa yang tidak pernah aku duga terjadi yang akan mengingatkanku dengan masa lalu.
“ Aisyah ???” ….. “Aisyah Pramudita ??” Teknik Sipil UNS 2004 ?? MasyaAlloh ….”, tanyaku dengan kondisi yang sangat kaget ketika muslimah itu memalingkan wajahnya.
“ hmmm …. Iya. Aisyah Pramudita Teknik Sipil Kampus Hijau 2004 teman kampus antum dulu. Afwan, ana gak tau kalau “surya” itu antum “ , kata aisyah menjelaskan.
Aisyah Pramudita….seorang muslimah aktif dan cerdas. Teman satu kampus, satu angkatan. Di kampus dia termasuk aktifis, terutama di organisasi islam dan pers kampus. Pernah satu departemen di organisasi jurusan. Pertemuan ini sungguh sangat membuat perasaanku terasa “nano-nano”, campur aduk. .. senang … kaget … dan sedih. Sudah hampir 2 tahun tidak pernah bertemu sehingga pertemuan ini sangat menyenangkan. Akan tetapi jika mengingat peristiwa sebelum kita berpisah terasa pedih juga. Tapi itu masa lalu, biarlah jadi kenangan dan pelajaran hidup bagi perjalanan ini.
“kamu sering kesini aisyah ?” tanyaku untuk memulai pembicaraan yang bertahun-tahun terputus.
“iy, kebetulan ana sekarang di amanahi pegang SD IT (*sebuah Sekolah Dasar Islam Terpadu) di yayasan Masjid Raya ini. Sehabis kerja biasanya ana singgah sebentar di taman ini untuk menulis atau menghafal ” , jawab aisyah menjelaskan. Dan ternyata masih aktif menulis juga.
“emang rumah kamu dekat sini ?”, tanyaku lagi.
“kurang lebih 15 menit dari sini ke selatan, tepatnya di wilayah pabrik gula”, jawab aisyah menjelaskan alamat rumahnya. Memang sejak kuliah belum pernah aku dan teman-teman main ke rumah aisyah. Karena aisyah selama di dunia kampus banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan di kampus.
“afwan, kalo antum ada agenda apa ada di sini ?, bukankah rumah antum jauh dari sini” Tanya aisyah sambil masih menyembunyikan wajahnya.
“ooo….tadi saya ada kerjaan di gedung DPRD, karena ada sedikit masalah jadinya pengen merefresh pikiran sejenak sebelum melanjutkan aktivitas yang lain” jelasku.
“hmmm….sekarang kerja dimana ?” Tanya aisyah layaknya seorang introgator
“sekarang di lembaga konsultan proyek dan bisnis property sebagai sampingan”, jelasku.
Sambil berjalan ke depan ke tempat aisyah duduk, aku berdiri di samping depan agak jauh dari tempat duduk aisyah. Alhamdulillah,di sekeliling kami banyak adik-adik kecil yang sedang bermain, sehingga bisa menemani kami agar tidak terlihat berkhalwat.
“oy..gimana kabar si faishal, dan sudah punya momongan berapa kalian?” kataku menanyakan kabar keluarganya.
Faishal albina, seorang aktifis kampus Fakultas Ekonomi Kampus Hijau 2004. Pernah satu Departemen denganku ketika di BEM Universitas. Berasal dari kota yang mempunyai slogan ASRI yang sekarang menjadi kota pertanian organic.
“afwan, ana harus pulang” kata aisyah sambil berdiri. Dan ini yang membuat aku sangat..sangat kaget. Aisyah berdiri dengan susah payah, karena ternyata aisyah menggunakan “tongkat krek” untuk membantunya berdiri.
“MasyaAlloh Aisy…apa yang terjadi dengan kaki kamu”, tanyaku dengan kondisi yang sangat kaget.
“afwan, ana harus segera pulang”, jawab aisyah tanpa mempedulikan pertanyaanku.
“Ok….tapi tolong ceritakan sebentar padaku, apa sebenarnya yang terjadi selama 2 tahun ini. please….!!” Mohonku pada aisyah yang sempat aku kagumi dulu.
Akhirnya, aisyah mau bercerita tentang perjalanan hidupnya 2 tahun terakhir ini. Memang ada kisah masa lalu antara aku, aisyah dan faishal. Kami bertiga lulus bersama akhir tahun 2008. Setelah wisuda, aku memutuskan untuk kembali dulu ke kampung halaman mencoba merintis usaha mandiri sambil menunggu panggilan kerja. Faishal termasuk orang yang beruntung, setelah wisuda dia langsung kerja di sebuah perbankan syariah di Kota Batik . Aisyah sendiri masih sibuk dengan sisa-sisa amanahnya di kampus hijau.
Beberapa bulan setelah wisuda, aku berkeinginan untuk menyempurnakan ½ din yang selama ini menjadi keinginan besar bagi para aktfis. Setelah berembug dengan bapak ibu, yang pada saat itu bapak masih sugeng dan akhirnya di ijinkan,maka aku memutuskan untuk menyatakan keseriusanku ini pada salah satu muslimah yang selama ini aku harapkan akan menjadi bagian dari tulang rusukku. Muslimah itu tiada lain adalah Aisyah Pramudita, muslimah yang sangat energic, amanah dan cerdas. Ketika, keseriusanku ini aku sampaikan kepada Aisyah. Aisyah tiada bisa menyanggupi keseriusanku tersebut, karena pada saat itu berbarengan ada ikhwan lain yang juga menyatakan keseriusannya pada Aisyah. Ikhwan itu tiada lain adalah Faishal albinna. Dan pada akhirnya, Aisyah memutuskan untuk menerima pinangan dari Faishal albinna yang lebih mapan maisyahnya daripada aku pada saat itu.
“1 bulan setelah pertemuan kedua belah pihak keluargaku dengan keluarga faishal, ana mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tulang kaki kiriku patah. Pada saat itu, ana sedang melakukan perjalanan menuju lokasi bakti social d daerah lereng Merapi. Cuaca dalam kondisi hujan lebat, karena ana koordinator dalam acara tersebut maka ana harus datang. Di tengah perjalanan, ana tertabrak truk pengangkut pasir dan kaki kiri terlindas ban truk. Untuk menghindari infeksi menjalar maka harus di amputasi”, jelas aisyah mengenai kondisi kakinya sambil terdengar isak tangis kecil dan terlihat keping-keping air keluar dari matanya membasahi wajahnya.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun ….sabar aisy”, kataku menenangkan aisyah.
“dan cobaan itu tidak berhenti di saat itu..” tambah aisyah
“trus apalagi yang terjadi setelah itu?” tanyaku pada aisyah sambil merasakan pilu di dada.
“setelah mengetahui kondisi fisik ana seperti ini, yang bakal cacat seumur hidup maka keluarga faishal memutuskan untuk membatalkan lamarannya”, jelas aisyah yang semakin membuat dia meneteskan kepingan-kepingan suci dari mata indahnya itu.
“MasyaAlloh….kok bisa faishal setega itu ?” tanyaku sambil sedikit gregetan pada faishal
“insyaAlloh bukan salah Faishalnya, dia tidak bisa melawan keputusan keluarga besarnya itu. Tapi sudahlah ana sudah mengiklaskan semuanya”, kata aisyah mencoba membesarkan hatinya sendiri menerima semua cobaan itu.
“lalu dimana Faishal sekarang ?” tanyaku.
“setelah pembatalan lamaran itu, Faishal di jodohkan oleh keluarga besarnya dengan anak kyai yang ada di daerahnya, “ jelas aisyah sambil mengenang peristiwa 1 tahun yang lalu.
Faishal yang masih ada keturunan “darah biru” memang seperti dikendalikan oleh keluarga besarnya. Sehingga orang tuanya pun tidak bisa bilang apa apa. Menurut mereka terasa aib mempunyai anggota keluarga yang cacat.
“hmmm….kok jadi sedih gini ? afwan…” ungkap aisyah dengan mencoba mengembalikan keriangan wajahnya sambil tersenyum manis.
“afwan jiddan aisy…jika membangkitkan kenangan masa pilumu”, kataku meminta maaf pada aisyah.
“insyaAlloh gak pa pa akh….semua sudah dituliskan Alloh di Lahul Mahfuz-NYA. Dari kejadian ini ana banyak mendapat hikmah dan ibroh. Alhamdulillah…. Sekarang ana sudah dapat amanah menjadi kepala SD IT ini, buku-buku hasil tulisan ana juga sudah ada beberapa yang sudah diterbitkan dan yang paling ana syukuri, ana mendapatkan kemudahan untuk menghafal Al-qur’an”, kata aisyah yang terlihat tegar atas semua kejadian hidupnya.
Satu hal yang membuat aku semakin simpatik dan kagum padanya. Bukan hanya kecerdasan secara lahiriah tapi kecerdasan ruhani yang dimiliki Aisyah begitu sempurna dalam menyikapi perjalanan hidupnya. Tiada mudah untuk bersikap demikian, sungguh Alloh akan menghadiahkan jannah bagi orang-orang yang beriman dan bersabar seperti Aisyah.
“Alhamdulillah….sudah berapa yang Aisy hafal”, tanyaku.
“Alhamdulillah sudah 15 juz” , jawab Aisyah sambil tertunduk sebagai wujud ketawadukannya dan tidak mau terlena dalam ketakaburan.
“Subhanalloh…..Barokalloh ya ukhty”, kataku sambil masih terkagum-kagum dan malu rasanya sama Alloh karena selama ini aku hanya bergelut dengan duniawi.
Tidak terasa waktu sudah semakin sore. Jam arloji di tanganku menunjukkan waktu jam 17.00 WIB.
“afwan akh, sudah sore ana harus segera pulang kwatir di cari ayah ibu”, kata Aisyah memohon ijin.
“iya Aisy, aku juga harus pulang sudah janji ma ibu hari ini gak pulang malam. Ini kartu namaku, disitu ada nomer HPku. Bolehkah aku minta nomer HP kamu ?”, pintaku sebelum kami berpisah.
“ oy, ini kebetulan ada kartu nama ana dibuatkan dari yayasan”, kata Aisyah sambil menyerahkan kartu namanya.
Tertera nama “Aisyah Pramudita, S.T , Kepala SD IT Nur ‘Ilm , no.HP 081568456xxx, alamat : Gondang Rejo, Karangnongko, Klaten”.
“terima kasih Aisy atas pertemuan ini, dan afwan telah membuat kamu meneteskan kepiluan masa lalumu”, kataku
“insyaAlloh gak pa pa akh, ana juga senang dipertemukan dengan saudara ana yang sekian lama gak bersua dan semoga ukhuwah kita semakin dipereratkan oleh Alloh. Bertemu dan berpisah karena Alloh”, ucap Aisyah
Kata-kata yang seakan mengisyaratkan untuk menjalin kembali ikatan suci yang dulu sempat akan terwujud.
“afwan ana pamit dulu,syukron. Assalamu’alaykum Warrohmatulloh wabarokatuh”, pamit Aisyah sambil berlalu dari pandanganku.
“wa’alaykumsalam warrohmatulloh wabarokatuh, … waiyakum”, jawabku seakan mendoakan kepulangannya.
Terlihat Aisyah berlalu dari hadapanku, menaiki sebuah motor yang telah dimodifkasi khusus untuk pengendara yang mengalami kekurangan dalam fisiknya. Aku pikir dia akan dijemput ayahnya atau saudaranya, ternyata tidak. Dia mengendarai motor sendiri dengan segala kekurangan yang ada pada dirinya. Satu lagi karakter indah yang aku lihat dari Aisyah, kemandirian yang begitu kuat. Meskipun kondisi kakinya mengalami kekurangan akan tetapi dia tiada pernah merepotkan orang lain.
Akupun bergegas untuk pulang ke rumah, agar tidak terlalu malam sampai rumah. Akhirnya, pas adzan maghrib berkumandang aku sudah sampai rumah. Karena sudah adzan mandipun aku tunda untuk mendapatkan pahala berjamaah di masjid, juga untuk lebih mengakrabkan diri lagi dengan para jamaah sebagai wujud silaturahim karena tidak setiap hari aku bisa berjamaah dimasjid dekat rumahku. Dan kali ini, aku memutuskan menghabiskan waktu untuk bermunajat pada Alloh dimasjid hingga ba’da isya’ nanti. Ada gelombang perasaan yang berbeda yang harus aku cari jawabannya. Pertemuan dengan Aisyah yang tanpa aku duga banyak membawa isyarat-isyarat ILahiah yang mesti aku sikapi dengan keimanan.
Rasanya kurang cukup waktu munajatku pada Alloh, dan akan aku lanjutkan nanti malam
Bersamaan qiyamul lail. Semoga akan segera aku temukan jawabannya.
Sebagai wujud ikhtiar secara dhohir,maka aku putuskan untuk menanyakan pada ibu. Biasanya firasat ibunda sangat tajam dan bisa mengantarkanku mendapatkan jawabanya.
“bu, surya mau menanyakan sesuatu. Boleh ? “ tanyaku pada ibu yang lagi sibuk dengan rajutan ditangannya.
“mau tanya apa to le…kok kelihatane serius banget ?” jawab ibu masih dengan kesibukannya.
“bagusan mana bu, muslimah yang cacat fisik dengan yang cacat ruhani ?” tanyaku memancing pembicaraan.
“ehmmm….bagusan muslimah yang cantik fisik dan ruhaninya? “ jawab ibu sambil tersenyum.
“ yaaahhh ibu nih lho,tanyanya apa jawabnya apa…” gerutuku.
“lha iy to….tapi kalo pilihannya itu ya mending muslimah yg kekurangan dalam hal fisik tapi ruhaninya hidup. Karena muslimah yang ruhaninya hidup dia tahu bagaimana harus menyikapi jalan hidupnya sehingga sesuai dengan apa yang diajarkan Alloh dan RosulNYA. Sekarang tu sulit le cari muslimah yang bener-bener ruhaninya hidup. Kelihatanya saja fisiknya berjilbab, ikut majelis tapi masih aja “grenengi’ orang lain, “srei” karo keberhasilan orang lain, kurang “unggah ungguh” karo wong tuo”, jelas ibu panjang lebar.
“ooo…ngoten gih bu?”, ucapku paham sambil menggangguk
“sik sik…ono opo iki? Kok kelihatane kok “janur gunung”, tiba-tiba nanya gituan..” Tanya ibu heran sambil meletakkan rajutannya.
“hehe…inggih bu. Ada peristiwa yang menarik hati surya hari ini bu”, jawabku.
“oy..opo le? Coba ceritakan pada ibu !!” pinta ibu.
“tadi sore setelah urusan kerja selesai, surya singgah sebentar di Taman Masjid Raya. Disana surya ketemu dengan teman lama, yang mungkin ibu masih ingat nama dia..” tuturku pada ibunda tercinta.
“ oy… sapa dia?” tanya ibu.
“Aisyah Pramudita…bu. Muslimah yang dulu sempat mau surya pinang”, jawabku menjelaskan.
Mendengar nama Aisyah Pramudita, ibu agak sedikit menunjukkan raut wajah yang berbeda. Tiada senyum, sedikit berkerut keningnya. Memang dulu ibu salah satu orang yang sedikit kecewa atas penolakan Aisyah terhadap pinanganku pada dia.
“maafin Aisyah bu, bukan salah Aisyah dulu menolak pinangan surya”, pintaku pada ibu yang masih terlihat sedih
“iy nak… ibu sudah memaafkan Aisyah sejak dulu. Hanya saja, ibu teringat pada almarhum bapak kamu. Dulu bapak kamu sangat senang dan cocok pada Aisyah, meskipun baru lihat dari fotonya. Pada saat itu bapak kamu sangat berharap kamu berjodoh dengan dia. Tapi sudah lah…. Itu masa lalu. Cukup di iklaskan saja”. Tutur ibu sambil mengenang masa lalu bersama bapak.
“Lalu gimana kondisi Aisyah sekarang ? dah punya momongan berapa?”, tanya ibu.
“ belum bu… kondisinya sekarang sangat berbeda”, jawabku
“maksud kamu gimana le ?” tanya ibu penuh tanda tanya.
“Aisyah tidak jadi menikah dg faishal, karena keluarga besarnya faishal membatalkan lamarannya setelah melihat kondisi Aisyah yang mengalami kecelakaan dan harus kehilangan kaki kirinya”, jelasku pada ibu.
“innalillahi wa innailaihi roji’un…” ucap ibu yang sangat kaget mendengar ceritaku.
“karakter Aisyah masih sama seperti dulu bu, lembut, energik, sopan. malah semakin terlihat sempurna dengan kejadian yang menimpa hidupnya itu. Meskipun da kekurangan dalam fisiknya Aisyah masih bisa bersikap iklas, ceria dan mandiri menjalani segala aktifitasnya sebagai seorang Kepala Sekolah SD IT, penulis bahkan dia akan menjadi hafidzah yang sekarang sudah hafal 15 juz”, tuturku pada ibunda seraya menjelaskan kondisi Aisyah sekarang
“Subhanalloh….. moga Alloh senantiasa memberkati gadis itu le”, doa ibu untuk Aisyah
“Amiin…. Dan karena itulah bu surya bertanya tentang hal tadi pada ibu. Surya ingin menjadikan Aisyah sebagai belahan jiwa surya, menurut ibu pripun?”, tanyaku pada ibu seraya menyampaikan keinginanku.
“kamu mantab le ?” bukan karena kasihan to ?”, tanya ibu seakan meragukan niatku.
“Mantab bu, bukan karena kasihan. Disamping karena rasa cinta yang dulu pernah ada, juga karena surya melihat kepribadian yang penuh keimanan pada diri Aisyah”, jelasku pada ibu seraya menyampaikan kemantaban pilihanku.
“kalo kamu memang sudah mantab bener, ibu hanya bisa merestui niatanmu itu. Moga Alloh memberkahi semuanya”, kata ibu seraya mengijinkan keinginanku untuk menikahi Aisyah.
“Alhamdulillah….matur nuwon bu”, tuturku berterimakasih pada ibunda tersayang
Dini hari yang menggigil,aku bangun untuk bermunajat pada Alloh Sang Pemilik Hati. Seraya memohon kemantaban akan keputusanku untuk menikahi Aisyah Paramudita.
Keesokan harinya, dengan rasa yang penuh dengan kemantaban aku berniat menyampaikan langsung kepada Aisyah niatan keseriusanku untuk menjadikan dia sebagai belahan jiwaku, penyejuk jiwa. Dan kamipun janjian ketemu di Taman Masjid Raya setelah urusan kerjaku di kota salak pondoh.
“Assalamu’alaykum warrohmatulloh wabarokatuh”, salamku pada Aisyah yang sudah menunggu di Taman Masjid Raya.
“Wa’alaykumsalam warrohmatulloh wabarokatuh”, jawab Aisyah menjawab salam doaku.
“afwan Aisy,mengganggu waktu kamu. Saya cuma mau menyampaikan sesuatu, dan sebelumnya saya minta maaf kalo lancang”, kataku pada Aisyah seraya mohon ijin bicara.
“iya akh, gak pa pa. kebetulan kerjaan sudah selesai semua. Tafadhol, ada yang bisa ana Bantu?” kata Aisyah mengijinkan
“begini Aisy, setelah pertemuan kemarin saya cerita sama ibu saya sekaligus meminta pertimbangan beliau selainitu juga memohon petunjuk dari Alloh. Dan dengan itu, saya ingin menyampaikan niatan suci saya pada kamu. Saya ingin melamar kamu dan menjadikan Aisy sebagai pendamping hidupku”, kataku pada Aisyah menyampaikan niatanku
Aisyah terdiam sejenak, menunduk malu dan sekaligus kaget.
“syukron,atas niatan suci antum pada ana. Tapi afwan, apa ini bukan hal yang terburu-buru bukankah kita baru bertemu kemarin. Apa antum mantab dengan keputusan antum itu?” jawab Asiyah serasa meragukan keseriusanku.
“kenapa Aisy ? kamu meragukan niatan suciku ?” tanyaku
“bukan begitu akh… ana cuma kwatir keputusan antum untuk menikahi ana hanya karena perasaan kasihan melihat kondisi ana seperti ini dan itu kelak akan meracuni ikatan suci pernikahan,” jelas Aisyah
“Bismillah…. Tidak Aisyah. Semua ini bukan karena kasihan, tapi insyaAlloh tulus dari hatiku. Dan saya mengikuti sunah Rosul yang menikahi muslimah semata karena agama dan keindahan akhlaknya, gimana Aisyah ?” tegasku pada Aisyah tentang niatan suciku.
Aisyah diam tidak menjawab, masih saja menunduk malu. Dan Sabda Rosululloh saw tentang wanita yang dilamar dan diam itu pertanda “setuju”.
“insyaAlloh ahad besok, aku dan waliku akan bersilaturahim ke rumah kamu”, kataku menyampaikan rencana tindak lanjut dari lamaran ini.
“tafadhal …” , jawab Aisyah. Singkat, padat dan bermakna.
Akhirnya, ahad pagi aku, ibu dan beberapa saudara ibu bersilaturahim kerumah Aisyah sekaligus menyampaikan lamraan secara resmi pada kedua orang tua Aisyah. Dan Alhamdulillah, kedua orang tua Aisyah menerima lamaran dari pihak keluargaku. Karena memang sepenuhnya dikembalikan kepada Aisyah, dan aisyahpun menerima lamaranku. Syukur Alhamdulillah Yaa Rabbi, yang telah mempertemukan ikatan cinta yang lama terputus.
Satu bulan berikutnya akad nikah dan resepsi dilangsungkan. Banyak undangan yang hadir mendoakan pernikahan kami, tidak terlupa teman-teman kampus termasuk Faishal beserta istri dan anaknya yang masih bayi menyempatkan hadir. Di hari itu berkumpulah semua kebahagian, terhimpun dalam satu doa Robithoh kebahagian. Langit yang biru, Udara yang bertiup lembut, daun-daun yang menari-nari seakan membersamai pernikahan kami dengan dzikir-dzikirnya pada Sang Pemiliki Cinta. Tiada lupa malaikat-malaikat Cinta-Nya yang senantiasa mengagungkan Asma-Nya seraya mendoakan dua insan yang dipautkan hatinya dalam satu ikatan suci Lillahi Robbi.
Sujud Syukurku pada-MU Ya Alloh Sang Pemilik Segala Cinta yang telah menautkan hati-hati kami dalamikatan ridhoMU, dalam ikatan dakwah dan syariahMU. Senantiasa perkuat ikatan ini Ya Alloh hingga Engkau pertemukan kami kembali dalam JannahMU.
Ingatlah kawan… kebahagiaan yang hakiki bukanlah kebahagian yang diukur dengan materi tapi kebeningan hati kesucian jiwa … kala cinta telah dipautkan dengan utusan mulia, tiada resah tiada gundah tiada iri dengki benci serta subhah … itulah nafs muthmainah
keren nih ndik, coba aja dimasukin ke forum lingkaran pena jateng… ^^
ceritanya sangat menyentuh, aku sampai tidak tahu harus berkata apa, Andi bagus sekali ceritanya, terimakasih sudah mengingatkan semua ini ^_^
Siip!! Tinggal masalah teknisnya saja, huruf kapital di awal kalimat, ‘italic’ untuk istilah asing (kendil nggoleng, sulot pawon dll), huruf kapital untuk sapaan (Bu, Le, Pak, dll), tanda baca single (setelah ? tak perlu diberi , )
Sepele memang, tapi jadi poin penting di tangan editor
Maap kalo kebanyakan, karena saya pernah juga diberi saran seperti itu